Politikal,Nasional – Djarum Group dikenal sebagai salah satu konglomerasi besar di Indonesia yang berhasil mewariskan bisnis lintas generasi.
Namun di balik kesuksesannya, ada cerita tentang rasa tidak aman yang memicu ekspansi ke banyak sektor.
Direktur Utama PT Djarum, Victor Rachmat Hartono, mengungkap alasan utama di balik langkah agresif perusahaannya menjajaki bisnis di luar industri rokok.

Hal ini ia sampaikan dalam acara Meet The Leaders yang digelar Universitas Paramadina di Trinity Tower, Jakarta Selatan, Sabtu (26/7/2025).
“Begitu ada kesempatan kita masuk ke bisnis-bisnis lain yang tidak ada hubungannya sama industri sebelumnya. Soalnya ketakutan kalau terlalu dekat hubungannya, mati sama-sama,” ujar Victor melansir Detikfinance.
Menurutnya, keputusan memperluas usaha bukan karena keserakahan, melainkan bentuk respons atas pengalaman buruk yang pernah dialami keluarganya.
“Jadi kalau sampai ada yang tanya, kok Djarum ekspansi kanan-kiri-kanan gitu maksudnya karena serakah kah? Kamu nggak ngerti betapa insecure-nya kita? Ini dasarnya karena ada insecure family tau nggak? Yang pernah ngalami industri-nya gone, either gone gara-gara kelapa sawit atau gone gara-gara Jepang. It’s just gone. You don’t know how insecure we are,” katanya disambut tawa audiens.
Tak Hanya Rokok, Kini Merambah Perbankan hingga Kesehatan
Djarum yang awalnya dikenal sebagai raksasa industri rokok, kini memiliki portofolio luas. Salah satu langkah penting adalah kepemilikan mayoritas di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebanyak 54,94%.
Selain itu, melalui PT Hartono Istana Teknologi, Djarum memproduksi elektronik dengan merek Polytron. Kini, grup bisnis ini juga mulai menginjakkan kaki di sektor layanan kesehatan dan properti.
Djarum baru saja membeli 559,185 juta saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), serta memperkuat kepemilikan di PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dengan tambahan 62,9 juta saham senilai Rp169 miliar.
Bisnis Masa Depan yang Menjanjikan
Victor menyebutkan, akuisisi pada sektor kesehatan dan properti dilakukan dengan pertimbangan prospek jangka panjang.
“Itu termasuk yang kita lihat masa depannya masih cerah, dan ya kan kenapa ekspansi tadi saya udah jelasin, karena ketakutan. Karena ketakutan bisnis sendiri kapan-kapan bisa hilang. Terus ya kita mesti cari yang kayaknya di masa depan masih cerah,” jelasnya.