Politikal – Angka kejadian kanker pada anak terus menjadi sorotan. Sepanjang tahun 2020, terdapat 11.156 kasus baru yang menyerang kelompok usia 0 hingga 19 tahun.
Jenis kanker yang paling umum dijumpai adalah leukemia, dengan jumlah kasus mencapai 3.880 atau 34,8 persen. Disusul oleh kanker limfoma dan kanker otak yang masing-masing tercatat sekitar 640 kasus atau 5,7 persen.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Pendidikan Terpadu Nasional (RSPTN) Universitas Udayana, Cokorda Agung Wahyu Purnamasidhi, menjelaskan bahwa kanker anak umumnya disebabkan oleh berbagai faktor.

“Paparan lingkungan dan radiasai dalam jumlah besar juga menjadi factor risiko meskipun jarang terjadi,” jelasnya seperti dikutip RRI, Minggu (03/08/2025).
Faktor genetik dan gangguan pada perkembangan sel sejak masa kehamilan diduga menjadi pemicu utama. Selain itu, zat-zat berbahaya yang masuk ke tubuh ibu saat masa kehamilan turut menjadi perhatian.
Setiap anak dengan kanker memiliki respons berbeda terhadap terapi yang diberikan. Menurut dr. Wahyu, durasi pengobatan bisa berkisar antara enam bulan hingga dua tahun, bahkan lebih jika respons tubuh terhadap terapi berjalan lambat.
“Prosesnya melibatkan kombinasi dari kemoterapi, radioterapi, tindakan pembedahan serta pemantauan jangka panjang,” bebernya.
Selain penanganan medis, ia juga menegaskan pentingnya deteksi dini untuk meningkatkan peluang kesembuhan pada anak yang menderita kanker.
Dengan kemajuan teknologi, deteksi kini dapat dilakukan melalui sejumlah metode modern, termasuk pemeriksaan genetik, sirkulasi DNA tumor dalam darah, dan analisis ekspresi RNA.