Politikal – Kementerian Kesehatan RI menekankan perlunya kerja sama berbagai pihak untuk mempercepat pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) yang masih menjadi ancaman kesehatan setiap tahun.
Ketua Tim Kerja Arbovirosis Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Fajar Silalahi, mengatakan penanganan DBD tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
Dukungan dan sinergi dari masyarakat, lembaga swasta, hingga organisasi kemasyarakatan dinilai krusial.

“Kita perlu menggabungkan serta mengolaborasikan segenap potensi sumber daya yang ada, baik dari unsur pemerintah maupun non-pemerintah, untuk mempercepat terwujudnya masyarakat yang terbebas dari DBD,” ujarnya melalui kanal YouTube Kemenkes, Rabu (13/8).
Fajar menyebut, langkah pencegahan tetap menjadi kunci utama. Ia menegaskan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui metode 3M Plus—menguras, menutup, mendaur ulang, serta mencegah gigitan nyamuk—akan efektif bila dijalankan secara konsisten.
Menurutnya, koordinasi cepat antarinstansi saat ditemukan kasus di lapangan menjadi faktor penting untuk menghentikan penyebaran.
“Respons yang cepat dan tepat dapat mencegah penyebaran lebih luas,” kata Fajar.
Ia juga mengajak warga segera melapor bila ada kasus demam yang dicurigai sebagai DBD agar penanganan bisa dilakukan sejak dini.
Dalam kesempatan yang sama, Tim Kerja Arbovirosis, Dirjen P2P Kemenkes RI, dr. Agus Handito, menegaskan pentingnya edukasi yang berkelanjutan.
Kampanye pencegahan, kata dia, perlu diperkuat tidak hanya lewat media massa, tetapi juga melalui aksi nyata di tingkat lingkungan.
“Keterlibatan RT, RW, kader kesehatan, sekolah, dan tokoh masyarakat akan membuat pesan pencegahan lebih mudah diterima dan dilaksanakan,” ujar Agus.
Ia menambahkan, musim hujan berpotensi meningkatkan populasi nyamuk Aedes aegypti.
“Musim hujan membuat nyamuk Aedes aegypti berkembang biak lebih cepat. Jika tidak ada tindakan pencegahan dari sekarang, potensi lonjakan kasus sangat tinggi,” ujarnya.
Kemenkes bersama dinas kesehatan daerah telah menyiapkan sejumlah program intervensi, antara lain fogging fokus, pembagian larvasida, hingga pemantauan populasi nyamuk di wilayah rawan.
Data Kemenkes menunjukkan tren kasus DBD di sejumlah daerah cenderung meningkat saat musim hujan.