Internasional

Hamas Kecam Relokasi Warga Gaza oleh Israel: Gelombang Baru Genosida

×

Hamas Kecam Relokasi Warga Gaza oleh Israel: Gelombang Baru Genosida

Sebarkan artikel ini
Warga Gaza (Foto: REUTERS/Dawoud Abu Alkas)

Politikal – Kelompok Hamas mengecam rencana Israel yang akan memindahkan penduduk dari Kota Gaza ke wilayah selatan. Hamas menilai langkah itu bukan solusi kemanusiaan, melainkan “gelombang baru genosida dan pengungsian” bagi ratusan ribu warga.

Dalam pernyataannya, Hamas menyebut penyediaan tenda dan perlindungan sementara oleh Israel sebagai “tipuan yang nyata” untuk menutupi operasi militer.

Sebelumnya, militer Israel mengumumkan telah menyiapkan tenda dan peralatan darurat mulai Minggu (17/8) sebagai bagian dari rencana relokasi warga dari zona pertempuran di Gaza utara menuju selatan dengan alasan keselamatan.

Dilansir Reuters dan Al Arabiya, Senin (18/8), Hamas menegaskan bahwa langkah Israel tersebut hanyalah kedok untuk melanjutkan “kejahatan brutal” terhadap penduduk sipil.

Baca Juga :  Eskalasi Konflik: Jet Tempur Thailand Gempur Pos Militer Kamboja

Israel pada awal Agustus menyatakan akan meluncurkan operasi baru guna menguasai Gaza utara. Rencana itu memicu keprihatinan komunitas internasional, mengingat wilayah kantong tersebut sudah porak-poranda dan dihuni sekitar 2,2 juta orang.

Baca Juga :  India Murka Dikenai Tarif 50 Persen, Siapkan Langkah Balasan

Di Tel Aviv, puluhan ribu warga Israel turun ke jalan pada Minggu (17/8) menuntut diakhirinya perang.

Massa membawa foto sandera, mengibarkan bendera kuning, serta menabuh drum sambil menyerukan pembebasan warga Israel yang masih ditahan di Gaza.

“Kami di sini untuk menegaskan kepada pemerintah Israel bahwa ini mungkin menit-menit terakhir yang kita miliki untuk menyelamatkan para sandera yang ditahan di terowongan Hamas selama hampir 700 hari,” kata Ofir Penso, seorang guru bahasa Arab berusia 50 tahun kepada AFP.

Baca Juga :  PBB: Bantuan Udara Tak Cukup, Gaza Butuh Akses Darat

Aksi protes itu merupakan bagian dari gelombang demonstrasi rutin yang telah berlangsung sejak 22 bulan terakhir pascaserangan Hamas pada 2023. Namun, unjuk rasa kali ini disebut sebagai salah satu yang terbesar sejak perang dimulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *