Politikal – Rupiah di prediksi masih melanjutkan tren pelemahan pada awal pekan ini, Senin (25/8/2025).
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 62,50 poin atau 0,38 persen ke level Rp16.350,5 per dolar AS.
Pada saat bersamaan, indeks dolar AS tercatat menguat 0,11 persen ke posisi 98,73.

Pelemahan rupiah bergerak seiring mayoritas mata uang Asia lain.
Yen Jepang terdepresiasi 0,14 persen, rupee India turun 0,38 persen, sedangkan ringgit Malaysia dan baht Thailand masing-masing terkoreksi 0,08 persen dan 0,04 persen.
Tekanan terhadap rupiah semakin terlihat usai pada Kamis (21/8) juga berakhir melemah 0,11 persen di Rp16.289,5 per dolar AS. Indeks dolar AS ketika itu naik tipis 0,02 persen menjadi 98,23.
Reuters melaporkan, sentimen negatif kawasan Asia turut menyeret pergerakan rupiah.
Yuan China, misalnya, tertekan setelah data penjualan ritel Juli 2025 hanya tumbuh 3,7 persen secara tahunan, di bawah perkiraan 5,9 persen.
“Sentimen terhadap rupiah Indonesia berbalik negatif setelah sebelumnya positif, sementara posisi short pada dolar Taiwan dipangkas. Bank Indonesia secara mengejutkan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu,” tulis Reuters.
Secara teknikal, rupiah masih mencatat penguatan tipis 0,51 persen dalam sebulan terakhir.
Namun dalam setahun penuh, rupiah melemah 4,81 persen dan sempat menyentuh titik terendah Rp17.107 per dolar AS pada April 2025.
Trading Economics memperkirakan rupiah akan berada di level Rp16.300,2 per dolar AS pada akhir kuartal ini, serta Rp16.595,1 pada tahun depan.
Dari faktor domestik, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai kebijakan fiskal pemerintah menjadi salah satu tekanan.
Dalam RAPBN 2026, pemerintah berencana menarik utang baru Rp781,87 triliun, terdiri atas penerbitan SBN senilai Rp749,19 triliun dan pinjaman neto Rp32,67 triliun.
“Pembiayaan utang yang tinggi ini bisa menambah tekanan pada rupiah, meski pembiayaan pinjaman neto turun di banding outlook 2025,” ujar Ibrahim.
Dari global, konflik Rusia–Ukraina masih menambah ketidakpastian.
Presiden AS Donald Trump menyatakan komitmen menjamin keamanan Ukraina sebagai bagian skema damai, namun kebijakan tarif tambahan AS terhadap India atas pembelian minyak Rusia kembali memicu gejolak pasar.