Opini

Banceuy : Dari Ruang Sempit Menjadi Panggung Abadi Perlawanan Bung Karno

×

Banceuy : Dari Ruang Sempit Menjadi Panggung Abadi Perlawanan Bung Karno

Sebarkan artikel ini

Oleh : Aulia Izqa Djafar | Bendahara DPD GMNI Gorontalo

Politikal – Di tengah hiruk – pikuk Kota Bandung, berdiri sebuah saksi bisu perjuangan yang tak lekang dimakan waktu yakni Banceuy.
Penjara kolonial yang kini menjadi museum ini pernah mengurung seorang pemuda bernama Soekarno pada tahun 1930.

Bukan karena kejahatan, melainkan karena keberanian mencintai bangsanya.

Dari ruang sempit, lembab, dan nyaris tanpa cahaya, Bung Karno melahirkan “Indonesia Menggugat” pledoi yang mengguncang singgasana kekuasaan Belanda.

“Biar aku meringkuk di balik jeruji, tapi pikiranku tetap merdeka!” tegasnya kala itu.

Dari Jeruji ke Panggung Sejarah

Baca Juga :  Antara Kepalsuan, Kekuasaan, dan Diamnya Lembaga (Part I)

Bagi penguasa kolonial, penahanan adalah upaya mematahkan semangat. Namun bagi Bung Karno, jeruji hanyalah tembok fisik, bukan penjara bagi ide.
Dalam pledoinya yang melegenda, ia menegaskan:

“Jika Tuan-tuan mengira bahwa aku akan mengakui kesalahan karena aku seorang tahanan, Tuan-tuan keliru! Kesalahanku hanya satu: mencintai rakyat dan tanah airku.”

Kata-kata itu melesat keluar dari Banceuy, menyalakan bara perlawanan di hati rakyat, dan menjadi pijakan menuju kemerdekaan. Bung Karno membuktikan, keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berjuang justru menjadi alasan untuk bergerak lebih keras.

Kini, Banceuy telah menjadi museum. Namun dinding-dindingnya masih berbisik: “Perjuangan bukan nostalgia, ia adalah amanat.”

Baca Juga :  Dukung JR, Menjemput Era Emas Olahraga Kabupaten Gorontalo

Bagi Sarinah, Banceuy adalah cermin. Di sana tergambar keberanian perempuan pejuang yang berdiri sejajar dengan lelaki, memikul senjata yang sama pikiran, keberanian, dan pengorbanan.

Seperti pesan Bung Karno: “Perempuan adalah tiang negara.” Jika tiangnya rapuh, robohlah bangsa.

Di tengah derasnya arus pragmatisme, jalan perjuangan semakin terjal. “Kesengsaraan adalah sekolah yang menggembleng pejuang,” ucap Bung Karno pengingat bahwa tekanan dan ujian adalah bagian dari proses pendewasaan perjuangan.

Pertanyaannya kini, apakah kader GMNI masih memiliki keberanian untuk melawan ketidakadilan, atau telah nyaman menjadi penonton sejarah? Apakah Sarinah siap mengibarkan panji perlawanan di medan baru, di mana musuhnya adalah kemiskinan, ketimpangan, dan pengkhianatan cita-cita kemerdekaan?

Baca Juga :  Bendera One Piece dan Merah Putih: Prabowo, Luffy dan Nasionalisme yang Luka

Banceuy akan tetap berdiri, diam namun penuh cerita. Namun tugas kita adalah memastikan kisah itu tak membeku di dinding-dinding tua. Ia harus hidup di langkah kita, di suara kita, dan di tindakan kita.

Karena seperti peringatan Bung Karno:
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri yang lupa akan cita-cita kemerdekaan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *