Politikal – Pemerintah China menyatakan “kekhawatiran serius” atas rencana Israel mengambil alih Kota Gaza dan mendesak Tel Aviv segera menghentikan langkah yang dinilai berbahaya tersebut.
“Gaza adalah milik rakyat Palestina dan merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayah Palestina,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Jumat (8/8), dilansir AFP.
China menegaskan, satu-satunya jalan untuk meredakan krisis kemanusiaan sekaligus mengamankan pembebasan sandera adalah menghentikan pertempuran.

“Cara yang tepat untuk meredakan krisis kemanusiaan di Gaza dan mengamankan pembebasan sandera adalah gencatan senjata segera,” ujarnya.
Menurut Beijing, resolusi penuh konflik Gaza hanya dapat dicapai melalui gencatan senjata, yang akan membuka peluang de-eskalasi dan menjamin keamanan kawasan.
“Resolusi penuh untuk konflik Gaza bergantung pada gencatan senjata; hanya dengan demikian jalan menuju de-eskalasi dapat dibuka dan keamanan regional terjamin,” katanya.
China menegaskan kesediaannya bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mengakhiri pertempuran di Gaza secepat mungkin.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengajukan rencana militer untuk “mengambil alih kendali” Kota Gaza sebagai bagian dari upaya mengalahkan Hamas. Kabinet keamanan Israel telah menyetujui rencana itu dengan dukungan mayoritas.
Rencana tersebut mencakup lima prinsip utama: perlucutan senjata Hamas, pemulangan seluruh sandera, demiliterisasi Jalur Gaza, penguasaan keamanan oleh Israel, serta pembentukan pemerintahan sipil baru yang bukan Hamas maupun Otoritas Palestina.
“Mayoritas menteri kabinet keamanan meyakini bahwa rencana alternatif yang telah diajukan kepada kabinet keamanan tidak akan mencapai kekalahan Hamas maupun pemulangan para sandera,” demikian pernyataan kantor Netanyahu.
Dalam wawancara dengan Fox News, Netanyahu menegaskan Israel akan menguasai Gaza untuk sementara namun tidak berniat memerintahnya.
“Kami bermaksud demikian,” kata Netanyahu saat ditanya apakah Israel akan mengambil alih seluruh wilayah pesisir tersebut.
“Kami tidak ingin mempertahankannya, kami ingin memiliki perimeter keamanan, kami tidak ingin memerintahnya, kami tidak ingin berada di sana sebagai badan pemerintahan,” lanjutnya.
Netanyahu menyebut pihaknya akan menyerahkan pengelolaan Gaza kepada pasukan Arab, meski belum mengungkap negara mana saja yang akan terlibat.