Internasional

India Murka Dikenai Tarif 50 Persen, Siapkan Langkah Balasan

×

India Murka Dikenai Tarif 50 Persen, Siapkan Langkah Balasan

Sebarkan artikel ini
Narendra Modi, Perdana Menteri India. - AFP/STR

Politikal – Perdana Menteri India, Narendra Modi, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mundur dalam melindungi petani, meski mendapat tekanan tarif dari Amerika Serikat. Hal itu disampaikan pada Kamis (7/8/2025), usai Presiden AS Donald Trump resmi menaikkan bea masuk produk India hingga 50 persen.

Dalam pernyataannya, Modi menyampaikan bahwa kesejahteraan petani, termasuk sektor susu dan perikanan, akan tetap menjadi prioritas pemerintahnya.

Baca Juga :  Trump: Zelensky Penentu Perdamaian Ukraina-Rusia

“India tidak akan pernah mengorbankan kesejahteraan petani, sektor susu, dan nelayannya. Dan saya tahu secara pribadi bahwa saya harus membayar harga yang mahal untuk itu,” ujarnya, dilansir Reuters.

Tarif baru yang diberlakukan AS mulai 28 Agustus mendatang, disebut sebagai bentuk sanksi atas keputusan India yang terus membeli minyak dari Rusia.

Kementerian Luar Negeri India merespons langkah itu dengan kekecewaan dan menyatakan akan mengambil langkah tegas melindungi kepentingan nasional.

Baca Juga :  Netanyahu Kritik PM Australia, Canberra Beri Respons Pedas

“Ini adalah penyimpangan sementara, masalah sementara yang akan dihadapi negara ini, tetapi seiring waktu, kami yakin dunia akan menemukan solusinya,” kata Dammu Ravi, pejabat senior di kementerian tersebut.

Perundingan dagang antara kedua negara dilaporkan mandek setelah lima putaran negosiasi, terutama menyangkut sektor pertanian India dan hubungan energi dengan Rusia.

Baca Juga :  Ketegangan Memuncak, Iran-Israel-AS Terancam Konflik Baru

Meski tidak menyebut langsung Amerika Serikat, pernyataan Modi dinilai sebagai bentuk pembelaan terhadap sikap India dalam menjaga kedaulatan ekonomi.

India juga mulai membuka kemungkinan penguatan hubungan baru, salah satunya melalui rencana kunjungan Modi ke China setelah lebih dari tujuh tahun, yang memunculkan spekulasi soal arah diplomasi yang lebih seimbang di tengah tekanan dari Washington.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *