Politikal – Andai semangat bisa ditukar dengan tiket pesawat, mungkin tim sepak bola pelajar Gorontalo sudah terbang ke DKI Jakarta hari ini.
Mereka bukan atlet profesional, bukan pula pemain klub elite. Mereka hanyalah pelajar yang rela berlari di bawah panas matahari, demi satu hal: membawa nama Gorontalo ke kancah nasional.
Setelah menyingkirkan tim-tim kuat dari Papua, Sulawesi Tengah, hingga Maluku Utara dalam ajang Pra-Popnas 2024, Gorontalo berhasil menembus Popnas 2025 — sesuatu yang tak mudah dalam cabang sepak bola, yang dikenal paling kompetitif.
Dari 38 provinsi di Indonesia, hanya 13 yang berhasil lolos. Dan Gorontalo, kecil namun gigih, adalah salah satunya.
Bahkan mengungguli provinsi-provinsi besar seperti DKI Jakarta (Tuan Rumah) dan Sulawesi Selatan yang gagal lolos.
Namun ironinya, kegigihan mereka justru tidak mendapat tempat di hati pemerintah daerahnya sendiri.
Tim ini terancam batal berangkat hanya karena Pemerintah Provinsi Gorontalo tidak menyiapkan satu rupiah pun untuk keberangkatan mereka.
“Kami sudah tahu sejak 26 September, tidak ada anggaran sama sekali untuk sepak bola Popnas,” ujar Saiful Yahya, sang kepala pelatih kepada Politikal.co.id.
Sejak awal, tim ini berjalan dengan segala keterbatasan. Tak ada fasilitas, tak ada kemudahan, bahkan sekadar tempat latihan pun harus mereka perjuangkan sendiri.
Mereka pernah berlatih di Stadion Merdeka Nani Wartabone, satu-satunya stadion besar di kota Gorontalo. Namun, alih-alih difasilitasi, mereka justru harus membayar.
“Kami latihan di Stadion Merdeka, tapi tetap disuruh bayar. Padahal kami membawa nama Provinsi Gorontalo,” kata Saiful.
Karena lapangan digunakan oleh SSB lokal di pagi hari, mereka hanya bisa berlatih pukul dua siang, di bawah terik matahari yang menyengat.
“Kalau pagi dipakai SSB lokal, jadi kami hanya bisa latihan jam dua siang, panas-panas begitu,” ujarnya.
Pernah suatu sore, ketika langit mulai gelap, mereka menyalakan lampu stadion agar latihan tetap berjalan. Tapi tak lama kemudian, datang tagihan kecil yang menyayat perasaan besar.
“Pihak pengelola minta uang listrik dan biaya lampu. Kami kaget, padahal kami ini membawa nama Pemprov, bukan latihan pribadi,” ucap Saiful.
Ironi tak berhenti di situ. Bahkan petugas parkir pun menagih bayaran kepada para pemain dan staf.
“Di mana hati nurani mereka? Kami di sini membawa nama Pemprov, bukan nama pribadi,” katanya lirih.
Sebelumnya, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Gorontalo memang mengusulkan anggaran sekitar Rp1,2 miliar untuk semua cabang olahraga Popnas.
Namun yang disetujui hanya Rp300 juta, dan sepak bola tak masuk daftar penerima.
Bahkan sempat muncul usulan untuk menggunakan dana BOS sekolah demi menutupi tiket pesawat — ide yang langsung ditolak oleh Dinas Pendidikan karena melanggar aturan.
“Akhirnya Dispora menyarankan kami mencari sponsor sendiri,” ungkap pelatih.
“Tapi bagaimana mungkin kami mencari sponsor, sementara kami berjuang atas nama daerah?”
Kini, tiket pesawat menjadi satu-satunya penghalang. Semua kebutuhan lain – makan, penginapan, transportasi sudah ditanggung panitia Popnas.
Namun tanpa dukungan dana dari daerah, semua mimpi itu bisa kandas di bandara Djalaluddin sebelum sempat mengudara.
Pantauan Politikal.co.id, Jumat (24/10) sore, memperlihatkan para pemain tetap berlatih di Lapangan Kompi Liluwo Kota Gorontalo.
Walaupun harapan bermain di lapangan DKI Jakarta rapuh, tapi mereka tetap berlari, menendang bola, menjemput mimpi yang mulai pudar.
“Kami tetap latihan, karena anak-anak ini masih punya harapan. Tapi pemerintah seperti membunuh cita-cita mereka sendiri,” ucap sang pelatih dengan mata berkaca-kaca.

Di bawah langit senja, bola terus bergulir. Tapi mungkin bukan bola itu yang paling berat — melainkan perasaan ditinggalkan oleh daerah yang mereka bela.
“Kami tidak minta dihormati. Kami hanya ingin diberi kesempatan berjuang membawa nama Gorontalo,” tutup sang pelatih pelan.














