Ekonomi

Prediksi IHSG Pekan Depan: Konsolidasi di Tengah Rekor

×

Prediksi IHSG Pekan Depan: Konsolidasi di Tengah Rekor

Sebarkan artikel ini
Foto : Ilustrasi AI

Politial, Nasional Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertingginya sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 7.543,50 pada penutupan perdagangan Jumat (25/7).

Kenaikan IHSG sebesar 3,17 persen dibanding penutupan akhir pekan sebelumnya di 7.311,91 turut mendorong kapitalisasi pasar menyentuh angka Rp 13.519 triliun, naik 3,37 persen dari Rp 13.079 triliun.

Performa positif pasar modal Indonesia juga tercermin dari lonjakan volume transaksi harian sebesar 6,40 persen menjadi 27,40 miliar lembar saham.

Frekuensi transaksi turut meningkat 2,31 persen menjadi 1,73 juta kali. Meski demikian, nilai transaksi harian justru turun 3,19 persen menjadi Rp 16,09 triliun.

Sementara itu, analis dari Phintraco Sekuritas memprediksi pergerakan IHSG pada awal pekan depan berpotensi sideways dengan kecenderungan menguat di kisaran 7.450 hingga 7.650.

Baca Juga :  Pemerintah Klarifikasi Skema Tarif Dagang ke AS

Beberapa faktor eksternal diperkirakan memengaruhi arah indeks, di antaranya negosiasi dagang lanjutan antara Amerika Serikat dan China di Stockholm (28–29 Juli), serta pertemuan The Fed pada 29–30 Juli.

Kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Skotlandia pada 25–29 Juli turut menjadi sorotan karena membuka peluang negosiasi ulang soal tarif impor baja dan aluminium dari Inggris.

Sebelumnya, perjanjian yang mulai berlaku 30 Juni menyatakan AS akan mencabut tarif tersebut.

Secara teknikal, indikator Stochastic RSI membentuk Golden Cross di area overbought dan MACD masih menunjukkan minat beli. Candlestick IHSG membentuk pola Doji dengan volume yang relatif lebih rendah, yang mengindikasikan terjadinya konsolidasi,” tulis analisis pasar Phintraco Sekuritas, dikutip Sabtu (26/7/2025).

Di sisi lain, analis Panin Sekuritas Reydi Octa melihat ruang penguatan IHSG mulai terbatas. Ia menilai ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan hasil negosiasi dagang AS-Tiongkok menjadi potensi tekanan koreksi teknikal.

Baca Juga :  Indonesia Resmikan Penerbangan Komersial Pakai Bahan Bakar Minyak Jelantah

Terutama soal arah kebijakan The Fed dan negosiasi dagang AS-Tiongkok pekan depan. Jika nada dari FOMC cenderung hawkish atau negosiasi tidak membuahkan hasil, IHSG rawan terkoreksi secara teknikal, ujarnya melansir detikcom.

Reydi memperkirakan IHSG akan berada dalam fase konsolidasi, bukan akselerasi. Ia menyarankan investor ritel untuk menghindari aksi beli agresif, dan lebih fokus pada saham berfundamental kuat, khususnya sektor perbankan.

Laporan keuangan kuartal II perbankan akan mulai dirilis satu per satu, investor menantikan hasilnya. Dalam kondisi global yang tidak pasti, strategi akumulasi bertahap jauh lebih baik daripada mengejar harga tinggi,” tambahnya.

Baca Juga :  Sektor Industri Jadi Tulang Punggung Ekonomi di Triwulan II-2025

Rekomendasi saham dari Phintraco Sekuritas mengarah ke sektor properti dan infrastruktur, seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN).

Namun demikian, aliran modal asing menunjukkan tren keluar. Total net foreign sell IHSG sepanjang 2025 hampir mencapai Rp 60 triliun. Bahkan pada perdagangan Jumat kemarin, dana asing yang keluar tercatat sebesar Rp 233,39 miliar.

“Data-data ini merupakan sinyal kuat adanya peningkatan kepercayaan investor di tengah banyaknya tantangan yang dihadapi, seiring dengan berbagai implementasi inisiatif strategis yang dilakukan oleh BEI bersama stakeholders,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Permadi Nurahmad, Sabtu (26/7/2025).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *