Ekonomi

Rupiah Melemah, China Sedang Tertawa

×

Rupiah Melemah, China Sedang Tertawa

Sebarkan artikel ini
Rupiah Anjlok (Foto: Okezone).

Politikal – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di tengah gejolak politik dalam negeri. Pada perdagangan Jumat (29/8/2025), rupiah ditutup di level Rp16.485 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,87% dalam sehari.

Data Refinitiv mencatat pelemahan ini menjadi yang terdalam sejak 8 April 2025, saat rupiah anjlok 1,67% akibat kebijakan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump.

Posisi penutupan tersebut juga merupakan level terendah sejak awal Agustus.

Sepanjang pekan ini, rupiah merosot 0,9%, berbanding terbalik dengan penguatan tipis 0,09% pekan sebelumnya.

Baca Juga :  Rupiah Melemah ke Rp16.350 per Dolar AS, Sentimen Asia Tekan Pasar

Sentimen negatif datang dari gelombang unjuk rasa sejak Senin (25/8) yang memuncak pada insiden tragis pengemudi ojek online Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta.

Aksi lanjutan pecah di berbagai daerah pada Jumat (29/8).

Meski begitu, demonstrasi bukan satu-satunya faktor.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai pelemahan juga di pengaruhi aksi ambil untung investor di akhir bulan.

“Pada periode akhir bulan, kelihatannya investor juga mengambil momentum. Akhir bulan mereka harus tarik atau realisasikan keuntungan mereka. Dan kebetulan timingnya ini ada demo,” ujar Myrdal melansir CNBC Indonesia, Jumat (29/8/2025).

Baca Juga :  Mendag: Distribusi Belum Lancar Picu Lonjakan Harga Beras

Tekanan rupiah semakin berat karena permintaan dolar meningkat untuk pembayaran impor dan utang luar negeri. Namun, faktor ini di nilai bersifat sementara.

Pasar kini menanti data inflasi Amerika Serikat, khususnya Personal Consumption Expenditure (PCE).

Jika hasilnya rendah, rupiah berpotensi pulih seiring pelemahan dolar AS.

Tidak hanya rupiah, mata uang Asia lain juga tertekan pekan ini.

Peso Filipina jatuh usai bank sentral memangkas suku bunga.

Baca Juga :  Harga Emas Pegadaian Naik Signifikan, Cek Daftar Terbarunya

Rupee India ambruk ke rekor terendah 88 per dolar AS, di picu tarif tambahan AS atas produk India.

Berbeda, yuan China justru menguat setelah People’s Bank of China (PBOC) menaikkan kurs tengah harian dengan margin terbesar dalam hampir setahun.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal perubahan strategi moneter menuju apresiasi bertahap yuan.

Analis menilai penguatan yuan bisa meningkatkan arus modal ke pasar China, sekaligus mempertegas keyakinan Beijing terhadap pemulihan ekonomi domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *