Ekonomi

Stok Beras Premium Seret, Aprindo Sebut Produsen Stop Produksi

×

Stok Beras Premium Seret, Aprindo Sebut Produsen Stop Produksi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi/Beras di MInimarket/Foto: Ignacio Geordy Oswaldo

Politikal – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkap penyebab stok beras premium berkurang di sejumlah ritel modern.

Kondisi ini terjadi setelah pengurangan pasokan dari produsen dan penarikan merek beras yang terindikasi oplosan.

Ketua Aprindo, Solihin, mengatakan banyak anggotanya dipanggil pihak kepolisian karena masih menjual beras premium yang diumumkan sebagai oplosan.

“Cuma memang stoknya nipis kan, otomatis. (Yang brand-brand kemarin ini, Pak?) Iya, yang brand-brand ini. Stoknya mau nipis. Kenapa? Barang nggak dikirim, stok yang ada tipis. Otomatis begitu kita di-display, habis. Saya peritel punya anggota 54 ribu dalam keadaan kemarin anggota saya banyak dipanggil oleh polisi. Kenapa? Ya karena menjual beras yang diumumkan, sehingga kita mengurangi lah,”kata Solihin melansir detikcom , Kamis (14/8).

Baca Juga :  Ogah Bayar Royalti , Hotel dan Kafe ini Terancam Dipolisikan

Ia menuturkan, jumlah pasti pengusaha ritel yang diperiksa belum dapat disebutkan, namun dipastikan lebih dari satu. Saat ini, distribusi beras premium mulai kembali dilakukan, termasuk beras program Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP), dengan target normal pada pekan depan.

Menurut Solihin, berkurangnya pasokan juga dipicu berhentinya produksi dari sejumlah produsen beras premium.

Baca Juga :  FEED Abadi Masela Dimulai, Investasi Rp341 Triliun dan Serap 12.611 Tenaga Kerja

“Iya (stok beras premium), karena begini, stok beras premium pada saat ini banyak produsen yang sudah tidak memproduksi lagi. Lebih dari satu, kalau saya bilang banyak lebih dari satu lah,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah pusat tetap meminta ritel menjual beras, namun pemerintah daerah menginstruksikan penarikan merek-merek yang masuk daftar beras oplosan.

Proses pemeriksaan dari kepolisian disebut membuat pelaku ritel merasa tidak nyaman.

“Tapi reaksi daripada teman-teman Kepolisian, memintai keterangan peritel itu juga menjadi suatu hal yang membuat kita kurang nyaman. Di samping itu, masyarakat juga menginginkan produk itu tidak di-display, dan ada pemerintah daerah, provinsi loh ya, yang minta produk-produk yang disebutkan oleh Mabes Polri itu diturunkan. Nah, itu kita mau ngomong apa? Ada pemerintah daerah yang menginginkan itu (perintah untuk menarik produk beras). Ada masyarakat, yang nggak semuanya lah. Kalau saya sebut ada, pasti ada. Kita juga sebagai pedagang, nggak menginginkan kita dagang tapi nggak nyaman. Saya milih nggak dagang,” kata Solihin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *