Kota Gorontalo

Pernyataan soal Dumoga di PKKMB UNG Tuai Polemik di Media Sosial

×

Pernyataan soal Dumoga di PKKMB UNG Tuai Polemik di Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Gean Rezka Rizaldy Bagit. - Politikal.

Politikal – Pernyataan seorang oknum dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025 memicu perdebatan publik, khususnya di kalangan warga asal Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Dalam acara tersebut, sang dosen menyebut Dumoga sebagai “kampung atau wilayah tukang baku potong”.

Ungkapan ini dengan cepat beredar di media sosial dan menuai reaksi beragam, mulai dari kritik keras hingga pembelaan bahwa pernyataan tersebut sekadar candaan.

Baca Juga :  Indra Gobel Bawa Misi Kota Gorontalo di AGMF 2025 Kuala Lumpur

Salah satu yang menanggapi adalah tokoh pemuda keturunan Dumoga asal Desa Pusian Barat, Gean Rezka Rizaldy Bagit.

Alumni UNG ini menilai ucapan tersebut tidak pantas disampaikan di ruang publik, apalagi oleh seorang tenaga pendidik.

“Kami kecewa. Dumoga hanya dikenal dari sisi negatif saja. Padahal banyak potensi alam, serta banyak tokoh, akademisi, dan pengusaha sukses berasal dari sini,” kata Gean, Rabu(13/8).

Baca Juga :  Paskibra Kota Gorontalo Diberi Penghargaan Usai Tuntaskan Tugas HUT RI

Menurut Gean, komentar yang menyentuh isu kesukuan atau kedaerahan sebaiknya disampaikan dengan penuh kehati-hatian.

“Ucapan yang menggeneralisasi bisa dianggap stereotip, dan ini sensitif di Indonesia yang memiliki keberagaman etnis, makanya ucapan seperti itu yang harus dijaga agar tidak keluar di ruang publik,” jelasnya.

Ia menambahkan, panitia acara kampus sebaiknya lebih selektif dalam memilih pembicara pada kegiatan resmi.

Baca Juga :  LHP Bongkar Dugaan Mark-Up Rp155 Juta Dana BOK di Puskesmas Kota Utara

“Kedepannya dalam acara seremonial, pembicaranya harus di seleksi betul, agar ucapannya tidak menimbulkan kegaduhan dan keriuhan di khalayak umum sebab isu SARA ini sangat sensitif di Indonesia,” tandas Gean.

Di media sosial, warganet terbelah dalam menanggapi kasus ini.

Sebagian mendesak permintaan maaf secara terbuka, sementara lainnya menilai pernyataan tersebut hanya gurauan yang dibesar-besarkan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *