HeadlineKesehatan

Busa di Mulut Bukan Bukti Keracunan, Narasumber: Gejala Medis Alami Juga Bisa Menimbulkannya

×

Busa di Mulut Bukan Bukti Keracunan, Narasumber: Gejala Medis Alami Juga Bisa Menimbulkannya

Sebarkan artikel ini

Politikal – Meninggalnya Sutrimo sempat memunculkan beragam spekulasi di tengah masyarakat. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah ditemukannya busa di sekitar mulut almarhum yang kemudian dikaitkan dengan dugaan keracunan maupun tindak kejahatan.

Namun, secara medis, keberadaan busa di mulut seseorang yang telah mengalami kondisi kritis tidak serta-merta dapat dijadikan bukti bahwa korban mengalami keracunan.

Seorang narasumber yang memahami aspek medis dan meminta identitasnya tidak dipublikasikan menjelaskan, busa pada mulut bukan merupakan tanda yang secara spesifik hanya muncul akibat paparan racun.

“Busa di mulut tidak bisa berdiri sendiri sebagai indikator keracunan. Kondisi tersebut dapat muncul ketika seseorang mengalami gangguan pernapasan, kejang, penurunan kesadaran, maupun kondisi metabolik tertentu,” ujar narasumber tersebut.

Menurutnya, dalam kondisi kejang atau penurunan kesadaran, air liur, lendir saluran pernapasan, dan udara dapat bercampur sehingga menghasilkan tampilan berbusa.

Baca Juga :  Menjaga Stabilitas Nasional di Tengah Ketidakpastian Global: Sebuah Catatan untuk Presiden Prabowo Subianto

Karena itu, diperlukan pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan penyebab kematian, termasuk pemeriksaan medis, pemeriksaan jenazah, serta apabila diperlukan pemeriksaan toksikologi forensik.

Narasumber tersebut juga menekankan bahwa temuan suatu zat di sekitar mulut atau saluran pencernaan tidak secara otomatis membuktikan zat tersebut sebagai penyebab kematian.

“Dalam toksikologi forensik, yang menjadi persoalan bukan hanya apakah suatu zat ditemukan, tetapi bagaimana kadar zat tersebut, apakah terjadi penyerapan ke dalam tubuh, distribusinya, serta apakah kadarnya memiliki hubungan dengan kematian,” jelasnya.

Di sisi lain, kronologi sebelum Sutrimo ditemukan dalam kondisi kritis juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Baca Juga :  MPI Desak Polresta Gorontalo Segera Tetapkan Tersangka Kasus Solar Subsidi SPBU Sudirman

Berdasarkan informasi yang beredar, sekitar pukul 01.00 WIB Sutrimo masih melakukan aktivitas seperti mengendarai sepeda motor, membeli makanan, minum kopi dan mengonsumsi suplemen. Beberapa jam kemudian, kondisi tubuhnya mulai menurun.

Sekitar pukul 05.30 WIB, Sutrimo disebut masih dalam keadaan sadar dan sempat menghubungi petugas keamanan untuk meminta pertolongan karena mengalami lemas dan menggigil.

Ia kemudian ditemukan dalam kondisi kritis dan mengalami kejang sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia saat proses evakuasi.

Baca Juga :  “Ini Tidak Wajar!” Frenky Bongkar Dugaan Kejanggalan Seleksi Akpol Gorontalo

Narasumber tersebut mengatakan kronologi tersebut tidak cukup untuk memastikan penyebab kematian, namun dapat menjadi salah satu bahan penting dalam analisis medis.

“Yang harus dihindari adalah menarik kesimpulan hanya berdasarkan satu gejala. Penyebab kematian harus ditentukan berdasarkan keseluruhan temuan medis dan pemeriksaan yang dilakukan pihak berwenang,” katanya.

Dengan demikian, spekulasi mengenai keracunan maupun tindak kejahatan sebaiknya tidak disimpulkan hanya berdasarkan adanya busa di mulut.

Masyarakat diimbau menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak yang memiliki kewenangan sebelum menyebarkan kesimpulan mengenai penyebab kematian Sutrimo.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *