HeadlineNasional

Tubuh Sutrimo Disebut Sulit Dievakuasi, Saksi: Masih Batuk Saat Digotong

×

Tubuh Sutrimo Disebut Sulit Dievakuasi, Saksi: Masih Batuk Saat Digotong

Sebarkan artikel ini
Foto : Ilustrasi AI.

Politikal – Kesaksian seorang pekerja yang berada di sekitar kediaman FA mengungkap kondisi Sutrimo ketika pertama kali ditemukan dalam keadaan sakit hingga proses pencarian ambulans.

Saksi yang meminta namanya tidak disebut itu mengaku terlibat langsung dalam proses evakuasi Sutrimo.

Ia juga ikut bersama F mencari kendaraan medis setelah upaya membawa korban menggunakan mobil pribadi tidak memungkinkan.

Menurut saksi, dirinya pertama kali dibangunkan oleh A. Saat itu, A meminta bantuan karena Sutrimo sedang dalam kondisi sakit.

“Saya sedang tidur. Saya tidak tahu jam berapa. Kemudian saya dibangunkan A. Dia bilang minta bantu Bang Trimo yang sedang sakit,” tutur saksi.

Tidak lama berselang, F juga menghubungi saksi dan memintanya segera menuju Kramat Pela dengan membawa mobil.

“Pak F juga bangunin saya. Dia minta saya cepat-cepat ke sana, ke Kramat Pela. Disuruh bawa mobil,” katanya.

Saksi sempat belum berangkat karena masih mengantuk. Namun, setelah F kembali menghubunginya, ia akhirnya menuju lokasi.

“Saya jawab iya saja karena masih ngantuk. Terus dia telepon lagi, mungkin karena saya lama. Dia tanya saya sudah di mana,” ujarnya.

Sutrimo Masih Memberikan Respons

Setibanya di lokasi, saksi melihat F dan A berada di tempat tersebut. A disebut berada bersama Sutrimo di dalam rumah.

“Saya lihat Pak F sama Pak A. Pak A di dalam sama Bang Trimo,” katanya.

Saksi kemudian melihat kondisi Sutrimo masih menunjukkan gerakan.

“Saya lihat Bang Trimo masih gerak-gerak. Masih hidup,” ungkapnya.

Baca Juga :  ‎Heboh! Istri Bongkar Perselingkuhan Antar Guru di Gorontalo Utara ‎

Menurut dia, respons Sutrimo juga terlihat ketika A meminta korban mengangkat tangan.

“Pak A minta Bang Trimo angkat tangan. Masih refleks, tangannya masih bergerak,” katanya.

Saksi kemudian ikut membantu A mengeluarkan tubuh Sutrimo dari dalam rumah.

“Pak A pegang ketiaknya. Saya pegang bagian lainnya. Kita angkat,” tutur saksi.

Proses tersebut disebut cukup berat karena ukuran tubuh Sutrimo. Bahkan, keduanya tidak mampu mengangkat tubuh korban sepenuhnya.

“Pokoknya dua orang saja tidak kuat. Perkiraan saya seratus kilo lebih. Sampai kita seret karena tidak kuat mengangkat,” katanya.

Saksi mengatakan tanda-tanda kehidupan masih terlihat selama proses tersebut.

“Masih hidup, Pak. Waktu kita gotong itu dia masih batuk,” ujarnya.

Ketika berada di sekitar tangga, Sutrimo kembali mengalami batuk dan mengeluarkan lendir.

“Dia batuk, terus keluar seperti dahak. Seperti mau mengeluarkan lendir,” kata saksi.

Setelah tubuh Sutrimo berada di bawah tangga atau teras, saksi kembali melihat lendir keluar dari hidung dan mulut korban.

“Di hidungnya keluar seperti gelembung, lendirnya kental. Seperti dahak. Kemudian dari mulut juga keluar,” tuturnya.

Mobil Brio Tak Bisa Digunakan

Setelah Sutrimo berhasil dievakuasi dari dalam rumah, upaya membawa korban untuk mendapatkan pertolongan medis segera dilakukan.

Saksi meminta bantuan pekerja lain di sekitar kediaman. Dua orang kemudian ikut membantu.

“Saya bilang ada orang sakit, minta bantuan. Kemudian ada dua orang yang ikut membantu,” katanya.

Mereka sempat berusaha memasukkan Sutrimo ke mobil Honda Brio. Namun, kendaraan tersebut dinilai tidak cukup untuk membawa tubuh korban.

Baca Juga :  Adhan Dambea ke PPPK : “Kalau Cerai, Saya Pecat!”

“Pas mau dimasukkan ke mobil, katanya tidak cukup. Badannya besar sekali,” ujar saksi.

Karena itu, saksi bersama F memilih mencari ambulans.

“Akhirnya saya sama Pak F pergi cari ambulans,” katanya.

Pencarian pertama dilakukan ke sebuah klinik 24 jam di kawasan Radio Dalam. Namun, ambulans tidak tersedia.

“Kami ke klinik 24 jam di Radio Dalam. Tapi ambulansnya tidak ada,” tutur saksi.

Mereka kemudian mendatangi Rumah Sakit Gandaria. Ambulans disebut tersedia, tetapi tidak ada pengemudi.

“Di sana ada ambulans, tapi tidak ada sopirnya,” lanjutnya.

Saksi kembali menegaskan bahwa saat dirinya meninggalkan lokasi untuk mencari ambulans, Sutrimo masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

“Saat saya pergi cari ambulans, Bang Trimo masih hidup. Masih batuk,” tegasnya.

Tak Mengetahui Kejadian Setelah Mencari Ambulans

Setelah kembali ke kediaman, saksi mengaku tidak lagi mengikuti rangkaian kejadian berikutnya.

“Saya sudah tidak ikut lagi. Saya kembali ke kediaman,” katanya.

Ia baru mengetahui Sutrimo meninggal setelah mendapat informasi bahwa korban telah dipulangkan dan kemudian dimakamkan.

“Saya tahunya Bang Trimo sudah dipulangin. Katanya meninggal di rumah sakit,” ujarnya.

Saksi juga tidak mengetahui secara pasti waktu Sutrimo meninggal karena sudah tidak berada di lokasi ketika proses selanjutnya berlangsung.

“Saya tidak tahu jamnya. Setelah saya cari ambulans, saya sudah tidak ikut,” katanya.

Baca Juga :  Lagi dan Lagi, Aktivitas PETI Suwawa Kembali Menelan Korban Jiwa

Pernah Cerita soal Kondisi Kesehatan

Saksi mengatakan dirinya pernah berbincang dengan Sutrimo sebelum kejadian tersebut. Percakapan itu berlangsung ketika keduanya berada di sekitar taman.

“Dulu kami pernah ngobrol-ngobrol sambil ngopi,” katanya.

Dalam percakapan tersebut, Sutrimo disebut pernah menceritakan mengenai kondisi kesehatannya.

“Dia pernah bilang pernah operasi. Saya lihat dia pakai sandal. Katanya jempol kakinya diamputasi karena diabetes,” tutur saksi.

Saksi juga mengaku pernah melihat luka di bagian punggung Sutrimo. Namun, ia tidak mengetahui secara detail mengenai riwayat pengobatan korban.

Tak Pernah Melihat Konflik

Selama berinteraksi dengan Sutrimo, saksi mengaku tidak pernah melihat adanya pertengkaran atau konflik antara korban dan pekerja di lingkungan kediaman FA.

“Hubungannya baik. Saya tidak pernah lihat ada konflik,” katanya.

Saksi menegaskan bahwa keterangannya hanya berdasarkan apa yang ia lihat dan alami secara langsung. Ia tidak mengetahui kejadian setelah dirinya kembali dari pencarian ambulans.

“Saya hanya sampai ikut menggotong dan mencari ambulans. Setelah itu saya tidak tahu,” ujarnya.

Kesaksian tersebut menggambarkan kondisi Sutrimo pada saat proses awal evakuasi, termasuk adanya gerakan, respons, dan batuk yang menurut saksi masih terlihat ketika korban dibawa keluar dari rumah.

Adapun waktu pasti kematian serta penyebab medis meninggalnya Sutrimo tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan kesaksian tersebut. Hal itu tetap memerlukan keterangan medis dan informasi dari pihak yang mengikuti proses penanganan korban setelah saksi meninggalkan lokasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *